Memaparkan catatan dengan label Resah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Resah. Papar semua catatan
Jumaat, 23 November 2012
Rindu Resah...
Madah rinduku tertumpah
dilaut penuh merah
mengalir di dada resah
dan punah
Resahku bergoncang
Resahku bergelumang
memandang dosa bertandang
ibarat malam tiada siang
pekat hitam bermasa selamanya panjang
Setitik demi setitik mengalir
mengusir menyisir
tetap mendung terukir
Aku tetap rindu
biarpun resah membebankan bahu
Aku tetap resah
biarpun rindu bersinar indah
Selasa, 20 November 2012
Resah...
Resah yang ku olah
menjadi parah
Resah bertaut...
Melutut
dalam lena yang merikut
Resah yang ku ukir
semakin tersisir
Ribut melanda pelayaran
mengoncang tali ikatan
turun naik jalan haluan
menyambung gema ombak lautan
Resah yang ku lukis
terpadam terkikis
Mengigit suara laungan
yang dahulunya resah berpanjangan
dan bangkit memuntahkan serangan
biar tiada bayang igauan
Resah yang ku ungkap
terperangkap
Silau sinaran bayangan
di kaca bersepah bergelimpangan
menyusur titisan demi titisan
kasih sayang dan tali hubungan
Resah di hatiku
Kerana kau itu aku
Resah di sini
Kerana aku mati
Ahad, 12 Ogos 2012
Belayar Mencari Penawar 46... (Layarku Resahku)
Tatkala malam gelita menyapa
Denai semalu berbalut mesra
Menitik air lembut warna
Meleraikan gelisah melanda
Mengubah situasi hampa
Tika rindu datang mengetuk jiwa
Merungkap kata mengalir dusta
Tertipu dan dipersenda
Layarku resahku baru ku tahu
Maka aku layarkan bahtera
Menerjah dipermukaan ombak gelora
Menceduk penawar jiwa
Sampai bila harus terkurung tidak dibuka
Jauh lebih bergetar rasa kecewa
Berlari dalam tiada
Layarku dan resahku
Masih melandakan rasa
Tangkai hiba
Mengapai mutiara kata
Gelap cahaya
"Bukankah dulu kau pernah mengenali dia?"
Layarku resahku baru ku tahu
Denai semalu berbalut mesra
Menitik air lembut warna
Meleraikan gelisah melanda
Mengubah situasi hampa
Tika rindu datang mengetuk jiwa
Merungkap kata mengalir dusta
Tertipu dan dipersenda
Layarku resahku baru ku tahu
Maka aku layarkan bahtera
Menerjah dipermukaan ombak gelora
Menceduk penawar jiwa
Sampai bila harus terkurung tidak dibuka
Jauh lebih bergetar rasa kecewa
Berlari dalam tiada
Layarku dan resahku
Masih melandakan rasa
Tangkai hiba
Mengapai mutiara kata
Gelap cahaya
"Bukankah dulu kau pernah mengenali dia?"
Layarku resahku baru ku tahu
Selasa, 22 November 2011
Gelisah Resah...
Hidup tidak selalunya indah
Bagai perlawanan
ada menang, ada kalah
Namun janganlah gelisah resah
Bersarang luka berdarah parah
Gusar malam menghampiri
Ombak menerpa menjadi saksi
Bulan bintang datang menerangi
Namun tidak dapat menutup kecewa ini
Sakit luka disakiti
Biar mengalir airmata
Biar keluar darah merah menyala
Tiada kata, tiadalah juga
Terkatup mulut diam seketika
Tiada tetaplah tiada
Ada pasti ada
Namun jalan-jalan ini
Penuh ketawa
Penuh kecewa
Penuh rindu cinta
Penuh dengan airmata
Melihatkan mana teroka
Andai di cari bahagia
Dapatlah bahagia
Datang duka, senyum sahaja
Usah gundah, dibiar menikam jiwa
Kata itu bahagia, senyum sahaja
Khamis, 17 November 2011
Pujangga Resah Gelisah...
Seharian resah mencuit jiwa
Tidak dapat diutus madah pujangga
Kaku, bisu jari melontarkan kata
Manakan mampu digerakkannya
Andai tiada pertolongan dari yang Maha Esa
Seharian mata terpejam tidak lena
Berputar-putar gasing di minda
Rebah, parah kaki tidak dapat dibangunkannya
Manakan mampu digerakkannya
Andai tiada pertolongan dari yang Maha Esa
Pujangga resah-resah
Pujangga gelisah parah melangkah
Dalam kecewanya dia ketawa
Menitis airmata dia suka
Di katanya...
"Resah melanda kaku
Tanpa kata terdiam batu
Sifat-sifat terbuka satu, satu
Namun tetaplah buntu
Manakan di corak mawar unggu
Ingin di ukir tetaplah layu..."
Aku terdengar lantas,
pena melakar warna kelabu
Pujangga melihat terus berlalu....
Tidak dapat diutus madah pujangga
Kaku, bisu jari melontarkan kata
Manakan mampu digerakkannya
Andai tiada pertolongan dari yang Maha Esa
Seharian mata terpejam tidak lena
Berputar-putar gasing di minda
Rebah, parah kaki tidak dapat dibangunkannya
Manakan mampu digerakkannya
Andai tiada pertolongan dari yang Maha Esa
Pujangga resah-resah
Pujangga gelisah parah melangkah
Dalam kecewanya dia ketawa
Menitis airmata dia suka
Di katanya...
"Resah melanda kaku
Tanpa kata terdiam batu
Sifat-sifat terbuka satu, satu
Namun tetaplah buntu
Manakan di corak mawar unggu
Ingin di ukir tetaplah layu..."
Aku terdengar lantas,
pena melakar warna kelabu
Pujangga melihat terus berlalu....
Langgan:
Catatan (Atom)





