Memaparkan catatan dengan label Pujangga. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Pujangga. Papar semua catatan

Rabu, 18 Julai 2012

Bermadahlah pujangga...

Hitam dipenghujung cerita
Tebal gelap gelita
Memanjat tinggi gunung-ganang
Payah merangkak mengapai
Membawa parut luka
Kelihatan membuka mata
Jauh lagi penemuan cinta

Beberapa kesan luka
Memaut dibingkai jiwa
Menyentap dalam gembira
Mengalirkan airmata
Menitis melepaskan bersama
Lakaran bibit bahasa
Bermadahlah pujangga

"Bersembunyi di keterangan wajah
Menerjah di sini sana
Gigil mengeletar langkah
Terpadam selama-lamanya"

Begitu rindu membara
Namun tidak ada
Sukar melafaskan kata
Hanya kaku singgah
Membaluti dada
Biar sekalipun payah
Tetap dirimu dipuja

Khamis, 24 November 2011

Pujangga Rimas Sibuk Bercerita Tentang Dia...

Pujangga berkias-kias bahasa
dalam katanya lautan samudera
Berenanglah dalamnya
Cari karang-karang rata
Jangan dibuat perhiasan sahaja
Lihatlah keunikan ciptaanNya

Kenapa, mengapa timbul cerita
Sini sana sibuk berbicara
Baru sejangkal jalannya
Mulalah megah akulah raja
Baru tahu, belum kaku
Sudah kaku, mana ada aku
Dialah hidup tidak mati itulah sifatNya

Jalan, jalan, jangan bising diam
Usah kata tahu, dalam penuh buntu
SifatNya berkata-kata tidak bisu
Jika bisu, jalan terus menuju
Selagi tidak dengar maka bukan itu
Dia punya sifat berkata-kata tidak bisu
Dengar itu sifatNya, bukanlah aku

Diberi pinjam megah, itulah aku
Hendak jadi raja, matilah juga
Hendak jadi Dia, musnahlah binasa
Kau bukan Dia, Dia itu Dia...
Aku bukan Dia, Dia itu Dia...

Siapa Dia? Sibuk dibicara
Bagai bertemu kasih cinta
Jika bertemu maka tiada
Hidup Dia tidak mati, mahupun binasa
Jika kenal maka tiada
Hanya Dia mengenali Dia

Sibuk bercerita
Berkata tahu, itu itu Dia
Mana, mana... matilah juga
Kekal hanya Dia

Khamis, 17 November 2011

Pujangga Resah Gelisah...

Seharian resah mencuit jiwa
Tidak dapat diutus madah pujangga
Kaku, bisu jari melontarkan kata
Manakan mampu digerakkannya
Andai tiada pertolongan dari yang Maha Esa

Seharian mata terpejam tidak lena
Berputar-putar gasing di minda
Rebah, parah kaki tidak dapat dibangunkannya
Manakan mampu digerakkannya
Andai tiada pertolongan dari yang Maha Esa

Pujangga resah-resah
Pujangga gelisah parah melangkah
Dalam kecewanya dia ketawa
Menitis airmata dia suka
Di katanya...

"Resah melanda kaku
Tanpa kata terdiam batu
Sifat-sifat terbuka satu, satu
Namun tetaplah buntu
Manakan di corak mawar unggu
Ingin di ukir tetaplah layu..."

Aku terdengar lantas,
pena melakar warna kelabu
Pujangga melihat terus berlalu....

Rabu, 16 November 2011

Pujangga Bawakan Rangkap Bahagia...

Pujangga utuskan madah berbunga
Biar jiwa ku tenang, hadir cinta
Tidaklah aku hanya dibuai resah bersahaja

Pujangga utuskan lakaran kata
Biar rindu di bawa, datanglah bicara
Tidaklah aku diam, termenung melihat purnama

Pujangga utuskan ukiran bahagia
Biar kasih sayang terbuka, pergi duka
Tidaklah aku menatap hiba dibalik senyum suka

Pujangga,
Lihatlah cerah langit pagi bercahaya
Adakah sama warna di malam gelita
Ibarat itulah aku adanya
Sunyi, sepi, hadirkan rangkap penghujung bicara
Tidaklah aku menceduk hingga binasa
Sesatku tanpa kabar gembira

Tarik tanganku bawakan rangkap penuh ada
Kau pujangga, tidak mungkin diam tanpa kata
Cintamu menyala bakarkan hamba
Biar lenyap tidak ada
Dari ada, masih dibelenggu merana

Selasa, 15 November 2011

Pujangga Ukirlah Biarpun Tiada Kata...

Pujangga jangan kau resah bersahaja
senyumlah, senyum semahu jiwa
biar apa kata terlempar di muka
terima dengan hati terbuka

Pujangga jangan kaku tanpa bahasa
coratkan kata walau tiada membacanya
biar lakaran itu lenyap, tiada
terima asalkan puas rasa

Pujangga jangan ada marah bicara
biarpun kesat, kotor di baling ke dada
terima segala apa yang ada
senyum, biar mereka kata kau gila

Pujangga,
apa ada pada bicara berbunga
andai kau masih menitis airmata
tidak ketawa, tidak suka
ukirlah biarpun tiada kata
kau akan merasa bahagia
tidak akan kecewa

Isnin, 14 November 2011

Pujangga Bukan Laksamana...

Ingin aku diam,
Tanpa mengolah seribu bahasa
Namun jiwaku resah tiba-tiba
Mungkin kerana aku pujangga
Bukan laksamana, punya keris ditangannya

Andai aku laksamana
Akan aku cantas setiap satunya
Biar rebah durjana
Mencium tanah merah menyala
Itulah darah yang di bangga
Biar dia cium untuk selama

Namun langkah tariku tiada bunga
Corak bahasa pula hanya merana
Ingin benam pena ke dada
Akhirnya aku juga yang tiada
Dia tetaplah ada...

Sabtu, 12 November 2011

Pujangga Madahmu Aku Baca...

Pujangga andai kau bermadah
Jangan pula kau resah
Andai tidak ada membaca kisah
Ukiranmu yang menerjah indah

Pujangga andai kau mengolah bahasa
Jangan pula kau merana
Andai ada yang datang berbicara
Lukisanmu tidak semanis bunga

Pujangga andai kau mengukir kata
Jangan pula kau terluka
Andai satu masa
Lakaranmu ranap ditelan gelora

Pujangga apa mahumu
Andai kau ingin madahmu
Dibaca satu persatu
Maka, kau bacalah dulu
Maka ia akan dibaca satu persatu

Pujangga apa mahumu
Andai kau ingin madahmu
Disebut-sebutkan indah-indah belaka
Maka, kau kata bahagia
Maka ia menjadi indah belaka

Pujangga ukiran ini tidak bermakna
Andai kau tidak pernah menyukainya
Maka, kau sukakanlah dia
Dia akan turut menyukaimu, selama

Khamis, 27 Oktober 2011

Pujangga Diam...

Dia pujangga
melihat alam dengan adanya
Biarpun langit hitam
kelam-kelam tiada bintang
Biarpun matahari hilang
di siang-siang yang terpampang

Tetap di lihat
sifat-sifat dengan adanya
terang-terang menimbulkan sayang
Biarpun tiada kata
hanya pena mencoretkan cerita
itupun tiada, yang ada diam
itupun dengan adanya

Maka, dia pujangga diam
melebarkan sayap-sayap
penuh kasih dan sayang
yang ada didalamnya
adanya dengan adanya
Sifat-sifat terpampang di depan-depan yang terang

Dia pujangga
menoktahkan terus diam
biar pena melakar bicara
biarpun, sekalipun lukisan itu kelihatan songsang
tetap di lihat dengan adanya

Khamis, 6 Oktober 2011

Kabar Berita Madah Pujangga...

Ranap tiang bahtera
Layu terkulai bagai bunga
Jatuh, patah, binasalah segala
Tiada apa dapat dibawa
Tiada apa dapat dibina
Hakikat segalanya tiada

Lalu tercipta
Madah-madah pujangga
Mencontengkan kata dengan pena
Mengeluarkan bayangan di depan mata
Biarpun hakikatnya tiada
Nampak apa jika gelap gelita

Disusun rapi kabar berita
Diwar-warkan segalanya bahagia
Menjadi senyuman pemikat cinta
Agar kenal akannya suka
Hakikatnya itu semua tiada
Binasa itulah penamatnya

Isnin, 19 September 2011

Pujangga Berkias Membawa Berita...

Mencorak bahasa memekarkan bunga
Menyulam kata merancakan minda
Pujangga berkias cerita dibawa
Kisah bahagia mahupun duka

Tidak kira andai ada
Airmata gugur membasahkan rupa
Gelak tawa menyusur memecahkan telinga
Tetap kabar berita dibawa
Agar alam turut sama merasa

Biar rupa, tidak kelihatan dimata
Biar suara, tidak berbunyi ditelinga
Hanya tulisan dilakar menjadikan baca
Moga dapatlah kira
Sama-sama mengerti akan akhirnya

Sabtu, 2 Julai 2011

Pujangga Diam...

di malam nan sunyi
aku mencari lagu-lagu rindu
namun aku temu
hanya airmata

mengalir hinggap ke pipi
makin deras semakin resah
tidak pula bercelaru arah
tidak pula gelisah gundah

putih, putih yang hilang
diganti hitam, hitam yang terang
kenapa?
soal bermain diminda

dan akhirnya aku temu
satu lagu
lagu yang tiada patah-patahnya
lagu yang tiada madah-madahnya
namun ada akan lagunya

disitu aku titikkan satu
aku noktahkan
pujangga diam

Sabtu, 18 Jun 2011

tiadalah wahai pujangga...

dalam aku
hanya rindu padamu
namun tetap kosong
terlontar berawan mendung

berkatalah kepada aku
hati ini masih kaku
buntu, jalan-jalan hilang
berderai patah songsang

katakan, katakan ini dusta
semua telah tiada
hilang, hilang entah ke mana
pergi, pergi jauh binasa
dekat, dekat mata tiada

tiadalah wahai pujangga
itukan dikata merana
maka diam berkatalah bahagia

awan, awam mendung
akan hilang melayang

Jumaat, 17 Jun 2011

wahai pujangga diam itu hitam...

tika kosong gelap gelita

tinggallah titik berbentuk noktah

dan aku cuba mengapainya

maka terimalah akan padah


katakanlah kepada aku

mengapa disentuh bujur-bujur kaku

hilang, hilang segala rindu

pulang, pulang jangan ditunggu

pergi, pergi biarkan aku


wahai pujangga

wahai pujangga

diam, diam itu hitam

gelap gelita penuh kelam

bagai hilang tidak ada alam


maka dibilang-bilang

supaya datang

dan akhirnya kembali hilang

diam wahai pujangga...

katakan, katakan itu dusta

biar hati kekal selama

suarakan diruang gelap gelita

dan tiada


tiada berbunyi irama

sunyi bertemankan... tiada

maka tiadalah rindu cinta

bermain-main diruangan maya


diam, wahai pujangga

bisukan kata

dan pasti berkata ada dua

luar mahupun dalamnya


maka diam wahai pujangga

biar aku telan kata-kata

menjadikan tiada

maka jadilah dia

pujangga jangan bersuara...

aku tidak ingin lagi

dan lagi

dan lagi

tiada rindu dihati

hilang merangkak pergi

jangan diulangi


diam, jangan berbunyi

pasti tiada

pastikan tiada

andai ada pasti itu tiada

merana, bahagia itukan sama

andai punya rasa dijiwa


katakan telah dilontarkan segala

telah hilang tidak akan menjelma

maka pujangga jangan bersuara


sekali dentuman petir sambung menyambung

maka akan hilang tidak datang

pujangga jangan berbunyi...

pergi, pergi
jangan dihantui perasaan celaru ini
pasti, pasti
sudah hilang akan rindu hati
cinta ditaburkan duri
makin bisalah beraja dihati

jangan ditanya-tanya lagi
mengapa kaki melangkah pergi
seringkali penuh salah sangka diulangi
kata, kata penuh benci
tinggi, tinggi... cukup! kaulah tinggi

ruang masih ada kini
namun tertutup tidak terbuka lagi
diam, diamlah pujangga jangan berbunyi
bunyikan hanya pada rangkap yang mati

Pujangga Mengesat Airmata...

Masa berlalu
Tidak akan menunggu
Pasti yang berlalu
Akan berlalu

Kini tiba
Era berairmata
Tinggallah ukiran madah pujangga

Hendak diselatkan haruman bunga
Pada siapa tanpa cinta
Akhirnya mengalir membawa merana
Tinggallah hanya airmata

Duka, duka berlalu
Kini berpijaklah engkau
Membuang mimpi mendakap rindu

Engkau pujangga tetaplah pujangga
Walau kemana berpijaknya
Kembali jua ke asalnya
Maka jadilah dia